Posted by: najib23 | November 27, 2008

Bisnis Yang Mensejahterakan Publik

Bisnis dan Kesejahteraan Publik

Dunia binis, sebagai sebuah entitas ekonomi sesungguhnya tidak hidup di dalam ruang hampa. Dunia bisnis yang umumnya terepresentasikan oleh perusahaan-perusahaan, tak dapat dipisahkan dari masyarakat, karena masyarakat adalah sumber dari segala sumberdaya yang dimiliki dan direproduksi oleh perusahaan. Tanpa masyarakat perusahaan bukan hanya tidak berarti melainkan tidak akan berfungsi. Tanpa masyarakat perusahaan tidak akan memiliki pelanggan yang akan membeli produknya dan tidak pula memiliki pegawai yang akan meproduksi barang yang akan dijualnya.

Tujuan perusahaan sesungguhnya sejalan dengan tujuan dari masyarakat itu sendiri, yakni mencapai kesejahteraan. Oleh karenanya keduanya bukanlah dua entitas yang harus saling menegasikan atau dua entitas yang saling mengeksploitasi. Ditengah situasi masyarakat Indonesia yang pada umumnya masih jauh dari sejahtera, maka perusahaan tidak boleh hanya memikirkan keuntungan finansial mereka semata. Perusahaan dituntut untuk memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap kesejahteraan publik.

Cita-cita mengenai kesejahteraan publik telah dicetuskan oleh Nabi Ibrahim as jauh sejak ribuan tahun lalu. Di tanah Mekkah yang tandus dan gersang, Nabi Ibrahim telah menancapkan cita-cita kesejahteraan bagi negerinya melalui do’a “Ya Tuhan kami, jadikanlah (negeri Mekkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya”, (QS 2:126). Rasa aman dan ketersediaan kebutuhan pokok bagi penduduk adalah dua indikator utama kesejahteraan suatu negeri. Oleh karenanya, dalam kaitannya dengan pencapaian kesejahteraan publik, perusahaan dapat berkontribusi dalam pemenuhan kedua kebutuhan tersebut.

 

CSR Sekedar Penebus Dosa

Perhatian dan kontribusi perusahaan pada kepentingan publik biasanya dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR). Schermerhorn (1993) memberi definisi CSR sebagai suatu kepedulian organisasi bisnis untuk bertindak dengan cara-cara mereka sendiri dalam melayani kepentingan organisasi dan kepentingan publik eksternal. CSR adalah pendekatan dimana perusahaan mengitegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan stakeholders berdasarkan prinsip kesukarelaan.

Istilah CSR sendiri pertama kali muncul dalam tulisan Social Responsibility of the Businessman tahun 1953. konsep yang digagas Howard Rothmann Browen ini dianggap dapat menjawab keresahan dunia bisnis. CSR diadopsi karena dianggap dapat menjadi penawar kesan buruk perusahaan yang terlanjur terbangun dalam pikiran masyarakat. Kesan  buruk tersebut antara lain pengusaha di cap sebagai pemburu uang yang tidak peduli pada dampak kemiskinan dan kerusakan lingkungan. Melalui kegiatan CSR pengusaha merasa tidak perlu terganggu lagi oleh perasaan bersalah, karena telah memberi kompensasi dalam bentuk charity.

Jika dilihat, latar belakang adopsi CSR oleh perusahaan sebagaimana diatas (mungkin juga sebagaimana yang umumnya terjadi sampai hari ini) justru memberi kesan bahwa praktek CSR seolah hanya menjadi alat untuk membangun citra positif ditengah bobroknya perilaku korporat yang terjadi. Praktek ini dilegitimasi secara ilmiah oleh Philip Kotler dan Nancy Lee dalam bukunya berjudul Corporate Social Responsibility, yang menempatkan CSR sebagai instrumen penting dalam menunjang strategi perusahaan, yakni pencapaian citra yang diinginkan serta tujuan komersial.

 

CSR dalam Islam

Implementasi CSR dalam Islam sesungguhnya bukanlah sebuah bentuk “penebusan dosa”, dimana perusahaan melakukan kerusakan di suatu daerah lalu membayarnya dengan program CSR. Karena pada kenyataannya kerusakan yang dihasilkan pada umumnya jauh lebih besar dari dana CSR yang dikeluarkan, dan dana itu sama sekali tidak bisa mengganti kerusakan yang telah terjadi, baik kerusakan fisik maupun kerusakan sosial.

Pada dasarnya segala aktifitas bisnis dalam Islam haruslah dimaksudkan sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah SWT. Oleh karenanya ia harus mengikuti aturan main yang telah digariskan oleh Allah dan Rasulnya. Bisnis Islami ialah serangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah kepemilikan (barang/jasa) termasuk profitnya, namun dibatasi dalam cara memperolehnya dan pendayagunaan hartanya karena aturan halal dan haram (lihat. QS. 2:188, 4:29). Oleh karena itu implementasi tanggung jawab sosial dalam Islam tidak hanya dilakukan sebagai kompensasi ketika suatu kerusakan terjadi. CSR dalam Islam melekat dalam seluruh business process yang dibangun perusahaan, mulai dari input, proses sampai output.

Dalam hal input, perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial memilih untuk hanya menggunakan bahan baku yang tidak berbahaya bagi konsumen, karena segala hal yang dapat merusak fisik bertentangan dengan maqashid al-syari’ah. Atau input harus diperoleh dengan cara yang tidak menimbulkan kerusakan. Dalam hal proses, perusahaan dituntut untuk menggunakan cara-cara yang manusiawi dan menjauhi unsur-unsur kezhaliman. Perlakuan sewenang-wenang kepada para pekerja selama proses produksi terjadi, penggunaan teknologi yang dapat mendorong terjadinya kerusakan lingkungan dan lain sebagainya merupakan bagian yang dilarang dalam Islam. Dalam hal output, perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial tidak hanya berfokus pada asal produk jadi dan laku terjual. Namun mereka juga memikirkan mengenai dampak produk tersebut pada lingkungan sosial yang lebih luas. Adanya tuntutan tokoh pendidikan anak (Kak Seto) agar Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa haram bagi rokok, merupakan refleksi dari ketidakpekaan produsen rokok dalam mengelola outputnya, sehingga dikhawatirkan akan mengancam keberlanjutan generasi anak bangsa.

Dalam konteks CSR, pelaku usaha atau perusahaan dituntut besikap tidak kontradiktif antara ucapan dan perbuatan dalam bisnisnya. Adanya perusahaan yang memproduksi barang yang jelas dapat merusak kesehatan namun melakukan CSR dengan membangun sekolah atlet atau mensponsori kegiatan olahraga merupakan contoh kontradiksi tersebut. Begitu juga dengan perusahaan yang telah melakukan pembalakan liar, yang menyebabkan hutan gundul dan kekeringan, namun memberikan beasiswa kepada mahasiswa kehutanan sebagai bagian dari CSR nya. Atau perusahaan yang telah menyebabkan rakyat mengungsi karena seluruh asetnya terkubur lumpur, lalu mendirikan sekolah dan memberikan beasiswa sebagai bentuk CSR. Semuanya itu merupakan kontradiksi-kontradiksi yang dilarang dalam Islam. Al Qur’an menyebutnya seperti seorang wanita yang menenun kain sepanjang malam, kemudian merusaknya kembali ketika kain itu jadi. Semuanya hanya sia-sia dalam pandangan Islam.

 

Perusahaan Monopoli dan CSR

Parameter dari kesejahteraan menurut nabi Ibrahim adalah rasa aman dan kecukupan bahan pokok. Oleh karenanya perusahaan yang telah membuat gelisah masyarakat karena kelangkaan sesungguhnya perusahaan yang tidak memiliki tanggungjawab sosial dalam perspektif Islam. Karena mereka tidak komit terhadap tujuan-tujuan kesejahteraan bersama antara korporat dan publik.

Perusahaan yang mengambil peran monopoli, seperti Pertamina, PT Kerta Api Indonesia, PT Perusahaan Listrik Negara dan lain-lain, memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan konsumennya dengan cara yang menentramkan. Dana charity yang mereka keluarkan atas “paksaan” undang-undang menjadi kurang bermakna ketika masyarakat harus selalu resah karena tingginya harga dan kelangkaan produk yang mereka ciptakan.

Kebutuhan publik saat lebaran misalnya adalah ketersediaan transportasi dengan harga normal. Perusahaan yang mengambil hak monopoli dalam bidang transportasi tidak boleh menaikkan harga semaunya karena alasan tingginya permintaan. Karena memang ia tidak bekerja dalam konteks pasar bebas dimana harga dipengaruhi oleh permintaan dan persaingan. Begitu juga dengan perusahaan yang mengambil hak monopoli atas penyediaan bahan bakar, tidak bisa berlindung atas nama harga keekonomian kemudian menciptakan keresahan dengan menaikkan harga secara sepihak. Perusahaan monopoli telah mengambil banyak sekali privilege yang sesungguhnya dimaksudkan untuk sebesar-besarnya kepentingan publik. Sehingga cukup aneh dan terasa tidak bertanggungjawab ketika perusahaan beserta orang-orang di dalamnya menikmati gelimang kemakmuran, sementara publik justru menderita berkepanjangan. Wallahu’alam.

Posted by: najib23 | August 13, 2008

Strategic Planning: An Overview

Strategic planning is an organization‘s process of defining its strategy, or direction, and making decisions on allocating its resources to pursue this strategy, including its capital and people. Various business analysis techniques can be used in strategic planning, including SWOT analysis (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats ) and PEST analysis (Political, Economic, Social, and Technological analysis).

Strategies are different from tactics in that:

1. They are proactive and not re-active as tactics are.

2. They are internal in source and the business venture has absolute control over its application.

3. Strategy can only be applied once, after that it is process of application with no unique element remaining.

4. The outcome is normally a strategic plan which is used as guidance to define functional and divisional plans, including Technology, Marketing, etc.

Strategic planning is the formal consideration of an organization’s future course. All strategic planning deals with at least one of three key questions:

  1. “What do we do?”
  2. “For whom do we do it?”
  3. “How do we excel?”

In business strategic planning, the third question is better phrased “How can we beat or avoid competition?”. (Bradford and Duncan, page 1).

In many organizations, this is viewed as a process for determining where an organization is going over the next year or more -typically 3 to 5 years, although some extend their vision to 20 years.

In order to determine where it is going, the organization needs to know exactly where it stands, then determine where it wants to go and how it will get there. The resulting document is called the “strategic plan”.

It is also true that strategic planning may be a tool for effectively plotting the direction of a company; however, strategic planning itself cannot foretell exactly how the market will evolve and what issues will surface in the coming days in order to plan your organizational strategy. Therefore, strategic innovation and tinkering with the ‘strategic plan’ have to be a cornerstone strategy for an organization to survive the turbulent business climate.

Posted by: najib23 | August 11, 2008

Organisasi dan Daya Saing

Organisasi adalah sekumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama dan sepakat berkerjasama untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan. Berdasarkan definisi tersebut, maka karakteristik dari sebuah organisasi adalah memiliki tujuan berbeda dari organisasi lainnya, berisi orang-orang yang sepakat terhadap tujuan dan ada pembagian tugas yang tercermin dalam sebuah struktur. Dalam literatur manajemen pengertian organisasi secara umum banyak dikemukakan oleh para ahli, diantaranya Webster mendefinisikan organisasi sebagai suatu struktur eksekutif dari bisnis atau didefinisikan sebagai suatu keseluruhan termasuk didalamnya fasilitas, material dan orang dengan perilakunya, yang diatur menurut posisi berdasarkan tugas atau pekerjaan yang ditetapkan.

Pada zaman modern ini, keberadaan organisasi sangat diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan bersama secara efisien ditengah situasi yang semakin kompleks. Keberadaan organisasi memungkinkan pencapaian tujuan-tujuan, yang sulit dicapai oleh individu secara perorangan, menjadi lebih mudah, karena adanya kerjasama antar individu yang memungkinkan terjadinya sinergi antar potensi individual. Sinergi adalah akumulasi kekuatan kelompok yang besarnya melebihi penjumlahan dari masing-masing individu jika bekerja secara sendiri-sendiri.

Saat ini dikenal beragam sifat organisasi menurut tujuan dari masing-masing orang yang berhimpun dalam organisasi tersebut, yaitu organisasi bisnis yang ditujukan untuk pencapaian laba dari pemilik atau pemegang saham dan organisasi sosial seperti Yayasan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau organisasi massa yang ditujukan untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial. Hal lainnya dikenal organisasi pemerintahan yang berbentuk departemen maupun badan, serta organisasi politik yang ditujukan untuk memperjuangkan aspirasi konstituennya dalam dunia politik.

Setiap organisasi, baik organisasi bersifat profit seperti perusahaan maupun organisasi non profit seperti organisasi massa, yayasan dan lain-lain tentu menginginkan adanya pertumbuhan dan keberlanjutan dalam setiap aktivitasnya. Perusahaan-perusahaan, baik dalam skala kecil, menengah maupun besar, tentu ingin terus meningkatkan keuntungannya, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan pegawai dan melakukan ekspansi bisnisnya menjadi lebih besar lagi.

Meski hampir seluruh organisasi di dunia menginginkan keberlanjutan, sayangnya tidak semua organisasi mampu menciptakan pertumbuhan dan mempertahankan keberlanjutan aktifitasnya. Hanya sedikit perusahaan besar yang hidup, walau hanya setengah dari umur manusia. Dalam tahun 1983, survey Royal Dutch/Shell menemukan bahwa sepertiga dari perusahaan menurut uraian 500 perusahaan versi Fortune dalam tahun 1970 telah lenyap. Shell memperkirakan bahwa rataan masa hidup perusahaan besar kurang dari 40 tahun.

Banyak hal yang menyebabkan suatu perusahaan gagal, baik karena faktor internal seperti buruknya manajerial perusahaan, ketersediaan modal yang terbatas, kurangnya daya inovasi, dan lain sebagainya maupun faktor eksternal seperti situasi persaingan yang sangat tinggi yang tidak mampu dihadapi, perubahan-perubahan dalam lingkungan bisnis yang tidak dapat diantisipasi, dan lain sebagainya. Pertumbuhan, keberlanjutan maupun kejatuhan sebuah organisasi saat ini bukan lagi sekedar disebabkan oleh persoalan-persoalan teknis semata. Persoalan strategik seringkali memainkan peranan nyata dalam pertumbuhan maupun kejatuhan organisasi/ perusahaan.

Situasi persaingan yang begitu tinggi saat ini telah memaksa perusahaan untuk lebih meningkatkan daya saingnya hingga mencapai tingkatan superior competitive advantage diantara pesaing-pesaingnya. Hal lainnya, perusahaan dituntut terus meningkatkan kapasitas dalam usaha memuaskan kebutuhan konsumennya. Selain itu, pada saat yang sama perusahaan juga bertanggungjawab pada profitabilitas yang memadai guna memuaskan para pemegang sahamnya. Dalam situasi ini, perusahaan dituntut senantiasa sadar dan berusaha memahami perubahan-perubahan yang terjadi pada struktur pasar dan persaingan yang tengah dihadapi (fundamental, inkremental atau radikal), sehingga upaya untuk memuaskan konsumen dan pemegang saham dapat dilakukan simultan.

Banyak perusahaan mengalami kepanikan ketika menghadapi situasi persaingan yang sangat tinggi, karena tantangan bisnis yang dihadapi saat ini jauh lebih besar dari yang pernah dihadapi di masa lalu. Globalisasi ekonomi, dimana produk berupa barang maupun jasa mengalir secara bebas antar negara, telah memberikan tekanan lebih tinggi kepada perusahaan-perusahaan untuk memiliki daya saing. Untuk itu, diperlukan pendekatan manajemen strategik, suatu pendekatan manajerial yang komprehensif dan berorientasi pada jangka panjang dalam mengelola pertumbuhan perusahaan di tengah situasi persaingan yang mengandung risiko dalam suasa ketidakpastian, sehingga perusahaan mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan. Proses manajemen strategik membantu perusahaan mengidentifikasi apa yang ingin dicapai dan bagaimana mencapai hasil kerja yang bernilai sesuai dengan faktor pendorong (sumber daya alam, manusia dan buatan) dan faktor penarik (pembeli dan lembaga keuangan).

Posted by: najib23 | August 8, 2008

Menggugat Analisis SWOT

Analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (strengths, weaknesses, opportunities and threats/SWOT) adalah perangkat analisis yang paling populer, terutama untuk kepentingan perumusan strategi.

Asumsi dasar yang melandasi adalah organisasi harus menyelaraskan aktivitas internalnya dengan realitas eksternal agar dapat mencapai tujuan yang ditetapkan. Peluang tidak akan berarti manakala perusahaan tidak mampu memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya untuk memanfaatkan peluang tersebut.

Kemampuan analisis SWOT bertahan sebagai alat perencanaan yang masih terus digunakan sampai saat ini, membuktikan kehebatan analisis ini di mata para manajer. Analisis SWOT telah lama menjadi kerangka kerja pilihan bagi banyak manajer, karena kesederhanaannya, proses penyajiannya, serta dianggap dapat merefleksikan esensi dari suatu penyusunan strategi, yaitu mempertautkan peluang dan ancaman dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki.

Namun, analisis SWOT adalah sebuah pendekatan konseptual yang luas, yang menjadikannya rentan terhadap beberapa keterbatasan. Pearce dan Robinson mengungkapkan beberapa keterbatasan analisis SWOT ini.

Pertama, analisis SWOT berpotensi untuk terlalu banyak memberikan penekanan pada kekuatan internal dan kurang memberikan perhatian pada ancaman eksternal. Dalam hal ini, perencana strategi di perusahaan di samping harus menyadari kekuatan yang dimiliki pada saat ini, juga harus menyadari pengaruh lingkungan eksternal terhadap kekuatan yang sekarang dimiliki tersebut.

Perubahan lingkungan yang sangat cepat dapat menjadikan kekuatan yang sekarang dimiliki menjadi tidak bermakna, bahkan bisa berubah menjadi kelemahan yang menghambat kemajuan perusahaan.

Mengabaikan perubahan

Kedua, analisis SWOT dapat menjadi sesuatu yang bersifat statis dan berisiko mengabaikan perubahan situasi dan lingkungan yang dinamis. Hal ini sama dengan apa yang terjadi pada proses perencanaan.

Kritik yang sering muncul terhadap suatu perencanaan adalah bahwa perencanaan ini hanya berhenti di atas kertas, namun miskin implementasi. Salah satu penyebabnya adalah lingkungan yang berubah sangat cepat, sehingga asumsi yang digunakan sebagai dasar dalam proses perencanaan menjadi tidak valid.

Karena analisis SWOT sering digunakan dalam proses perencanaan, tidaklah mengherankan bila analisis ini mendapat kritik dalam hal ketidakmampuannya memberikan respons yang cepat terhadap perubahan yang terjadi.

Oleh karena itu, analisis SWOT tidak boleh bersifat statis dan tidak boleh mengabaikan kemungkinan terjadinya perubahan, yang pasti terjadi. Perlu diingat bahwa analisis SWOT merepresentasikan sebuah pandangan yang khusus hanya pada satu titik waktu tertentu. Oleh karenanya elemen yang ada dalam analisis SWOT harus dikaji dan dievaluasi secara berkala.

Ketiga, analisis SWOT berpotensi terlalu memberikan penekanan hanya pada satu kekuatan atau elemen dari strategi. Padahal, kekuatan yang ditekankan tersebut belum tentu mampu menutupi kelemahan yang dimiliki, serta belum tentu mampu menghadapi berbagai ancaman yang muncul. Sebuah organisasi harus senantiasa menggali berbagai macam sumber daya yang mungkin memiliki potensi menjadi sumber kekuatan organisasi.

Keterbatasan lain dari analisis SWOT ini adalah kecenderungannya untuk terlalu menyederhanakan situasi dengan mengklasifikasikan faktor lingkungan perusahaan ke dalam kategori yang tidak selalu tepat. Klasifikasi sebuah faktor sebagai kekuatan atau kelemahan, atau sebagai kekuatan atau ancaman, sering ditentukan berdasarkan penilaian yang kurang tepat.

Sebagai contoh, budaya tertentu dari sebuah perusahaan dapat merupakan kekuatan atau kelemahan. Demikian pula perubahan teknologi, dapat merupakan ancaman, namun dapat pula dianggap sebagai peluang. Mungkin yang lebih penting adalah munculnya kesadaran perusahaan terhadap faktor lingkungan ini serta memanfaatkannya sehingga perusahaan dapat mengambil keuntungan semaksimal mungkin.

Keterbatasan lainnya berkaitan dengan subjektivitas. Mintzberg mengatakan bahwa boleh jadi penilaian mengenai kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh organisasi tidak dapat diandalkan (unreliable) dan bias.

Dalam beberapa kasus, faktor yang menentukan kekuatan dan kelemahan, peluang maupun ancaman yang dimiliki sebuah organisasi ditentukan oleh orang-orang yang terlalu dekat atau terlalu jauh dengan aktivitas aktual perusahaan. Hal ini dapat menimbulkan kesalahan strategi yang merugikan perusahaan.

Berbagai keterbatasan analisis SWOT seperti yang telah diuraikan di atas bukan berarti SWOT tidak bisa lagi digunakan. Justru keterbatasan ini dapat menjadi panduan dan pelajaran bagi perusahaan agar dapat memanfaatkan analisis SWOT dengan tepat, yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan.

Seperti halnya alat analisis yang lain, kegunaan analisis SWOT ini secara langsung berhubungan dengan kesesuaian (appropriateness) aplikasi, serta keterampilan mereka yang menggunakannya.

Sumber: A.B Sutanto, The Jakarta Consulting Group

Categories